Banyak orang beranggapan bahwa berenang adalah olahraga yang tidak membuat tubuh berkeringat karena seluruh permukaan kulit bersentuhan langsung dengan air yang dingin. Namun, persepsi ini adalah kekeliruan besar yang sering membahayakan para atlet mahasiswa. Fenomena merasa tidak haus di dalam air justru menjadi sinyal peringatan awal bahwa tubuh sedang kehilangan cairan tanpa disadari. Bapomi Batubara memberikan perhatian khusus pada isu ini, mengingat banyak perenang yang meremehkan kebutuhan hidrasi hanya karena mereka merasa “basah” sepanjang waktu latihan.
Saat berenang, tubuh tetap melakukan proses termoregulasi melalui keringat untuk menjaga suhu inti tetap stabil. Karena keringat tersebut langsung terbilas oleh air kolam, perenang sering kali tidak menyadari berapa banyak cairan yang telah keluar dari pori-pori mereka. Kehilangan cairan ini, jika digabungkan dengan intensitas latihan yang tinggi, akan memicu bahaya dehidrasi yang dapat menurunkan performa atlet secara drastis, menyebabkan kram otot, hingga gangguan konsentrasi yang fatal di lintasan balap.
Mekanisme Kehilangan Cairan Saat Berenang
Penyebab utama dehidrasi pada perenang adalah kombinasi antara suhu air kolam dan usaha fisik yang dikeluarkan. Di wilayah Batubara, suhu udara yang cenderung panas dapat memengaruhi suhu air kolam terbuka, yang mempercepat penguapan cairan tubuh melalui pernapasan dan keringat. Bapomi Batubara mencatat bahwa seorang atlet bisa kehilangan hingga satu liter cairan dalam satu jam latihan intensif. Jika asupan air tidak segera diganti, volume darah akan menurun, yang memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa oksigen ke otot-otot yang sedang bekerja.
Kondisi ini sering kali diperparah oleh hilangnya elektrolit penting seperti natrium dan kalium. Ketidakseimbangan elektrolit inilah yang menjadi biang keladi munculnya kram mendadak di tengah kolam. Versi Bapomi Batubara mengenai keselamatan atlet menekankan bahwa menunggu hingga rasa haus muncul adalah tindakan yang terlambat, karena rasa haus merupakan indikator bahwa tubuh sudah berada dalam tahap dehidrasi ringan.
Protokol Hidrasi yang Disarankan Bapomi Batubara
Untuk mengantisipasi masalah ini, Bapomi Batubara menyarankan skema hidrasi yang terukur. Atlet diwajibkan membawa botol minum ke pinggir kolam dan melakukan rehydration break setiap 15 hingga 20 menit sekali, meskipun mereka merasa tidak haus. Penggunaan minuman isotonik sangat disarankan bagi mereka yang menjalani sesi latihan lebih dari 60 menit guna menggantikan mineral yang hilang. Selain itu, pengecekan warna urin sebelum dan sesudah latihan menjadi metode paling sederhana yang diajarkan kepada para mahasiswa untuk memantau status hidrasi mereka secara mandiri.
