Tebar Kurma: Kenapa Masjid Kecil Jadi Prioritas Bapomi?

Bulan Ramadan selalu identik dengan manisnya buah kurma saat berbuka puasa. Namun, tidak semua tempat ibadah memiliki akses atau anggaran yang cukup untuk menyediakan kudapan sunah ini bagi para jamaahnya. Melihat kesenjangan ini, Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi) mengambil langkah yang sedikit berbeda dari biasanya. Melalui program tebar kurma, organisasi yang biasanya berfokus pada prestasi atlet mahasiswa ini kini turun ke akar rumput sosial. Fokus mereka sangat spesifik: memastikan bahwa setiap sudut kota, terutama masjid-masjid di gang sempit, merasakan keberkahan yang sama.

Pertanyaan yang sering muncul adalah kenapa masjid kecil yang menjadi sasaran utama? Secara strategis, masjid-masjid besar di pusat kota biasanya sudah memiliki donatur tetap dan stok logistik yang melimpah. Sebaliknya, musala atau masjid kecil di pinggiran sering kali luput dari perhatian pemberi bantuan besar. Dengan menjadikannya sebagai prioritas Bapomi, ada upaya pemerataan distribusi kebaikan. Mahasiswa yang tergabung dalam gerakan ini menyadari bahwa jamaah di lingkungan padat penduduk justru merupakan kelompok yang paling membutuhkan sentuhan perhatian langsung agar semangat ibadah mereka tetap terjaga.

Proses pelaksanaan program ini melibatkan pemetaan yang dilakukan oleh para atlet mahasiswa di daerah masing-masing. Mereka menggunakan stamina dan mobilitas mereka untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses kendaraan besar. Setiap paket kurma yang dibagikan dipilih dengan standar kualitas yang baik, karena Bapomi ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Langkah ini juga menjadi sarana bagi para atlet mahasiswa untuk tetap aktif secara sosial di luar jadwal latihan mereka. Bagi Bapomi, kegiatan ini adalah bentuk latihan mental dan empati yang sangat krusial bagi karakter seorang olahragawan.

Selain membagikan buah kurma, para mahasiswa juga melakukan dialog dengan pengurus masjid setempat. Mereka sering kali menanyakan kebutuhan lain yang mungkin bisa dibantu melalui jaringan organisasi kemahasiswaan. Pendekatan ini membuat hubungan antara akademisi, atlet, dan masyarakat menjadi lebih harmonis. Masjid kecil tidak lagi merasa dianaktirikan dalam semarak Ramadan. Justru, kehadiran mahasiswa membawa energi baru bagi anak-anak muda di sekitar masjid untuk ikut aktif dalam kegiatan keagamaan. Inilah dampak ganda dari program tebar kurma yang sederhana namun sangat tepat sasaran.