Kabupaten Batu Bara memiliki garis pantai yang panjang dengan kekayaan budaya bahari yang sangat kental. Kehidupan masyarakatnya tidak bisa dilepaskan dari laut, yang selama berabad-abad telah menjadi sumber penghidupan utama. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini adalah ketangkasan dalam mengarungi ombak dengan perahu kayu. Untuk melestarikan tradisi ini sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga, sebuah ajang Lomba Dayung Tradisional Batu berskala besar diselenggarakan dengan konsep yang unik. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi kecepatan di atas air, melainkan sebuah simbol kekuatan fisik dan mental masyarakat pesisir yang harus terus dijaga keberadaannya di tengah arus modernisasi.
Pelaksanaan kegiatan yang bersifat Tradisional ini menjadi sangat krusial di era sekarang, di mana banyak pemuda mulai meninggalkan akar budayanya. Batu Bara, dengan identitas melayu pesisirnya, memiliki teknik mendayung yang khas yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui lomba ini, teknik-teknik tersebut diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Dayung bukan hanya soal kekuatan otot tangan, tetapi juga soal ritme, keseimbangan, dan pemahaman terhadap arus laut. Dengan mengemasnya dalam bentuk festival yang menarik, nilai-nilai luhur dari nenek moyang dapat tersampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan dan kompetitif bagi peserta maupun penonton.
Keberhasilan acara ini sangat bergantung pada Sinergi yang terjalin antara berbagai elemen masyarakat. Dalam persiapan hingga pelaksanaan, terlihat kolaborasi yang erat antara panitia penyelenggara dan tokoh masyarakat setempat. Mahasiswa bertindak sebagai konseptor dan pengelola acara yang membawa sentuhan profesionalisme serta pemanfaatan teknologi digital untuk promosi. Di sisi lain, para sesepuh dan nelayan senior berperan sebagai mentor yang memberikan pengetahuan teknis mengenai pembuatan perahu dan navigasi tradisional. Gabungan antara semangat inovasi anak muda dan kearifan lokal para orang tua menciptakan sebuah harmoni yang membuat acara ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa.
Peran aktif Mahasiswa dalam kegiatan ini membuktikan bahwa mereka peduli terhadap eksistensi budaya lokal di wilayah mereka. Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi turun langsung ke lapangan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Bagi para Nelayan, kehadiran mahasiswa memberikan semangat baru dan pengakuan bahwa profesi serta keahlian mereka dihargai secara luas. Dampak ekonomi juga terasa sangat nyata dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Batu Bara untuk menyaksikan keseruan lomba ini. UMKM lokal, penyedia jasa transportasi, hingga penginapan mendapatkan manfaat langsung dari keramaian yang tercipta. Pada akhirnya, lomba dayung ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian tradisi dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkokoh identitas Batu Bara sebagai daerah bahari yang tangguh.
