Menjalani masa studi di luar daerah asal merupakan langkah besar bagi banyak pemuda, tidak terkecuali bagi para atlet dari Simeulue. Perjalanan jauh melintasi lautan untuk menetap di pusat kota demi pendidikan tinggi membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal adaptasi lingkungan dan cuaca. Bagi seorang atlet mahasiswa, tantangan utamanya bukan hanya terletak pada buku-buku kuliah, melainkan pada bagaimana menjaga stamina agar tetap prima di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang sangat berbeda dengan suasana tenang di kepulauan. Tanpa strategi yang tepat, perubahan pola hidup di perantauan bisa menjadi bumerang yang menurunkan kualitas fisik dan performa olahraga mereka.
Salah satu kunci utama dalam menjaga kondisi fisik bagi mahasiswa perantauan adalah pengaturan pola makan yang disiplin. Di kota besar, godaan makanan cepat saji atau jajanan pinggir jalan yang kurang sehat sangatlah banyak. Mahasiswa dari Simeulue, yang terbiasa dengan asupan protein laut segar dari daerah asal, harus pandai mencari sumber nutrisi yang setara di kota tanpa harus mengeluarkan biaya yang membengkak. Memasak sendiri di tempat kos sering menjadi pilihan paling bijak. Dengan mengonsumsi makanan yang diolah sendiri, mereka bisa memastikan asupan karbohidrat, protein, dan serat terpenuhi sesuai kebutuhan seorang atlet. Stamina yang stabil dimulai dari apa yang masuk ke dalam perut secara konsisten setiap harinya.
Selain nutrisi, manajemen waktu adalah fondasi kedua yang sangat krusial. Kehidupan di kota cenderung lebih cepat dan melelahkan secara mental karena kemacetan atau polusi. Mahasiswa atlet harus memiliki jadwal yang sangat ketat antara jam kuliah, waktu pengerjaan tugas, dan sesi latihan fisik. Sering kali, rasa lelah akibat perjalanan menuju kampus membuat keinginan untuk latihan menurun. Di sinilah komitmen diuji. Strategi yang banyak diterapkan adalah melakukan latihan fisik ringan di pagi hari sebelum perkuliahan dimulai. Hal ini bertujuan agar tubuh tetap aktif dan aliran oksigen ke otak tetap lancar, sehingga saat di dalam kelas, mereka tetap bisa berkonsentrasi penuh tanpa merasa mengantuk atau lemas.
Kualitas istirahat juga tidak boleh dikesampingkan dalam upaya menjaga ketahanan tubuh di perantauan. Kehidupan kota yang aktif hingga larut malam sering kali memancing mahasiswa untuk ikut begadang. Namun, bagi seorang olahragawan, tidur minimal tujuh hingga delapan jam adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Proses pemulihan otot dan regenerasi sel terjadi saat tidur pulas. Mahasiswa yang cerdas akan memprioritaskan waktu istirahat di atas agenda nongkrong yang tidak produktif. Mereka memahami bahwa stamina bukan hanya tentang seberapa keras mereka berlatih, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memberikan hak bagi tubuhnya untuk memulihkan diri setelah seharian beraktivitas di lingkungan kota yang keras.
