Di tengah gempuran olahraga modern dan teknologi digital yang kian dominan, upaya pelestarian permainan tradisional menjadi sebuah misi yang sangat mulia. Bapomi Batubara kini mengambil langkah berani dengan mengangkat Egrang ke Pentas Nasional yang lebih luas, yakni kompetisi mahasiswa tingkat nasional. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk mencari pemenang, tetapi juga sebagai upaya konkret dalam menjaga identitas bangsa agar tidak hilang ditelan zaman. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan menjadi garda terdepan dalam menghidupkan kembali warisan nenek moyang ini dengan semangat sportivitas yang tinggi.
Membawa permainan tradisional ke level nasional tentu memerlukan standarisasi dan teknik pelatihan yang serius. Egrang yang selama ini dianggap sebagai permainan anak-anak di pedesaan, kini bertransformasi menjadi cabang olahraga yang menuntut keseimbangan, kekuatan otot kaki, dan fokus mental yang luar biasa. Bapomi Batubara mulai menyusun regulasi pertandingan yang profesional tanpa menghilangkan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Persaingan antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi diharapkan dapat memicu kreativitas dalam pengembangan teknik berjalan dan berlari di atas galah bambu tersebut.
Pelestarian budaya lokal merupakan tanggung jawab kolektif yang harus terus dipupuk. Melalui olahraga egrang, para pemuda di ajak untuk mencintai kembali akar sejarah mereka. Bambu yang digunakan bukan sekadar alat, melainkan simbol ketangguhan dan fleksibilitas manusia dalam menghadapi tantangan hidup. Di Batubara, kompetisi ini dikemas sedemikian rupa agar selaras dengan kearifan lokal, di mana para peserta seringkali mengenakan atribut tradisional saat bertanding. Hal ini menciptakan pemandangan yang estetik sekaligus edukatif bagi masyarakat umum yang menyaksikannya.
Dukungan penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat di Kabupaten Batubara menjadi energi tambahan bagi para atlet mahasiswa. Wilayah ini memang dikenal memiliki kedekatan emosional dengan berbagai permainan tradisional. Dengan menjadikan egrang sebagai salah satu fokus pembinaan, daerah ini memposisikan diri sebagai pusat pelestarian olahraga tradisional di Sumatera Utara. Program latihan rutin yang dilakukan di kampus-kampus diharapkan dapat melahirkan atlet yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga memiliki kebanggaan yang besar terhadap identitas daerahnya.
