Dalam dunia olahraga, sering kali fokus utama yang tertangkap oleh penonton adalah skor akhir atau siapa yang menjadi juara. Namun, di balik kompetisi yang sengit, terdapat esensi yang jauh lebih berharga, yakni pembentukan karakter. BAPOMI Batubara menyadari sepenuhnya bahwa bagi anak-anak yatim, olahraga merupakan sarana terbaik untuk menanamkan pemahaman bahwa Bukan Sekadar Menang yang menjadi tujuan akhir dari sebuah pertandingan, melainkan bagaimana seseorang berperilaku selama proses tersebut berlangsung. Melalui program sosialisasi yang intensif, BAPOMI mengajak anak-anak panti asuhan untuk mendalami arti sesungguhnya dari nilai-nilai luhur dalam berolahraga.
Poin utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah mengenai Nilai Sportivitas. Sportivitas bukan sekadar kata-kata manis, melainkan praktik nyata untuk menghargai lawan, menaati aturan yang berlaku, serta menerima hasil pertandingan dengan hati yang lapang. Ketika seorang anak diajarkan untuk bersalaman dengan lawan sebelum dan sesudah bertanding, mereka sebenarnya sedang belajar untuk menekan ego pribadi. BAPOMI Batubara menjelaskan bahwa dalam kehidupan nyata, kekalahan atau kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan peluang untuk mengevaluasi diri agar menjadi lebih baik di kemudian hari.
Dalam sesi sosialisasi yang diselenggarakan, BAPOMI tidak hanya memberikan teori. Mereka menggunakan metode simulasi pertandingan di mana setiap pelanggaran yang terjadi akan diulas secara edukatif. Misalnya, jika seorang anak melakukan kecurangan, alih-alih memberikan hukuman keras, instruktur akan mengajak diskusi tentang mengapa tindakan tersebut merugikan bagi diri sendiri dan tim. Pendekatan persuasif ini sangat efektif dalam membuka wawasan anak-anak yatim bahwa kejujuran di lapangan adalah cerminan dari kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Mereka diajarkan bahwa kemenangan yang diraih dengan cara yang tidak benar justru akan terasa hambar dan memalukan.
Pentingnya menjaga emosi juga menjadi materi yang sangat diperhatikan. Olahraga sering memicu adrenalin dan tensi tinggi, terutama saat pertandingan berlangsung ketat. BAPOMI Batubara melatih anak-anak untuk tetap tenang meskipun berada di bawah tekanan lawan. Dengan mengelola emosi, anak-anak akan belajar bahwa mereka memiliki kendali penuh atas sikap mereka sendiri. Kemampuan ini merupakan modal sosial yang sangat besar bagi anak yatim untuk berinteraksi di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas nantinya. Mereka dilatih untuk menjadi sosok yang memiliki kontrol diri tinggi dan dihormati oleh orang lain karena integritasnya.
